Dino Patti Djalal

Dino Patti Djalal, Board of Peace Opsi Hentikan Konflik Gaza

Dino Patti Djalal Pandangannya Terkait Keterlibatan Indonesia Dalam Mekanisme Internasional Board Of Peace Atau Dewan Perdamaian Gaza. Dalam pernyataannya usai bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Dino menilai Board of Peace adalah satu-satunya opsi realistis yang tersedia saat ini untuk mendorong berakhirnya konflik yang berkepanjangan di Gaza, Palestina.

Konflik Israel–Palestina, khususnya eskalasi kekerasan di Gaza, telah berlangsung bertahun-tahun dan melahirkan berbagai upaya diplomatik global untuk mencari solusi damai. Namun hingga kini, banyak mekanisme belum menunjukkan hasil signifikan dalam menekan kekerasan dan mencapai gencatan senjata yang sustainable. Dalam konteks itu, Board of Peace, sebuah forum yang di bentuk untuk mendorong dialog dan solusi perdamaian. Muncul sebagai salah satu alternatif yang di mungkinkan untuk mendorong perubahan nyata.

Dino Patti Djalal mengatakan bahwa tekanan diplomatik internasional yang ada saat ini belum cukup efektif untuk menghentikan perang yang menimbulkan banyak korban sipil. Menurutnya, Board of Peace menyediakan landasan kerja sama yang lebih terstruktur meski bukan tanpa risiko. “Sekarang ini memang satu-satunya opsi di atas meja adalah mengenai Board of Peace. Tidak ada opsi lain,” ujar Dino Patti Djalal.

Pendekatan Dino Patti Djalal Realistis Presiden Prabowo

Dalam dialog tersebut, Dino mencermati pendekatan Presiden Prabowo yang di nilainya bersifat realistis dan pragmatis. Pendekatan ini di dasarkan pada pemahaman bahwa Board of Peace bukan solusi instan yang langsung menghentikan konflik. Melainkan sebuah eksperimen diplomatik yang mengandung peluang sekaligus ketidakpastian.

Ia menekankan bahwa langkah ini bukan semata soal ikut serta dalam sebuah forum internasional. Tetapi strategi untuk membuka peluang gencatan senjata, menekan eskalasi, dan memberi ruang diplomasi yang lebih luas di tengah kebuntuan proses perdamaian saat ini. Meski mengandung risiko geopolitik. Terutama karena keterlibatan berbagai aktor global, Prabowo di pandang memiliki pemahaman mendalam terhadap kompleksitas situasi tersebut.

Tidak Ada Solusi Alternatif yang Lebih Konkret

Salah satu alasan utama mengapa Board of Peace di pandang sebagai satu-satunya opsi yang layak adalah ketidakhadiran mekanisme global alternatif yang sepenuhnya operasional dan siap menekan pihak-pihak yang berkonflik. Menurut Dino, berbagai upaya lain yang pernah dilakukan dalam beberapa dekade terakhir belum berhasil menciptakan gencatan senjata yang bertahan lama. Maka dari itu, Board of Peace muncul sebagai platform kerja sama internasional yang layak dicoba.

Namun, Dino juga menegaskan bahwa keterlibatan Indonesia di dalamnya harus selalu di pantau. Indonesia di harapkan tetap mempertahankan prinsip negara dalam hubungan luar negeri — termasuk kebijakan luar negeri bebas aktif — serta tidak ragu untuk menarik diri jika kebijakan tersebut bertentangan dengan kepentingan nasional dan prinsip hak asasi manusia.

Risiko dan Tantangan yang Harus Diantisipasi

Sikap realistis ini juga berarti mengakui adanya risiko tindak lanjut dari keputusan bergabung dalam Board of Peace. Konflik Israel–Palestina melibatkan dinamika politik internasional yang kompleks, termasuk kuatnya pengaruh beberapa negara besar dalam forum tersebut. Dino menyebut kemungkinan besar risiko ini tidak bisa di abaikan, dan Indonesia perlu menyiapkan strategi mitigasi termasuk solidaritas dengan negara-negara Islam untuk meningkatkan posisi tawar dalam proses diplomatik.

Lebih lanjut, meskipun Board of Peace di anggap menawarkan peluang untuk menghentikan eskalasi perang. Forum ini bukan solusi ajaib yang bisa menyelesaikan semua masalah. Ia adalah bagian dari serangkaian usaha yang memerlukan komitmen, pengawasan. Dan penyesuaian kebijakan secara berkelanjutan agar tujuan perdamaian dapat mendekati realisasi.

Pandangan Dino Patti Djalal mencerminkan bagaimana perdebatan dan pertimbangan strategis tengah berlangsung di lingkup diplomasi Indonesia. Pernyataan bahwa Board of Peace adalah solusi yang realistis menggambarkan bahwa hingga saat ini belum ada alternatif lain yang lebih konkret untuk mendorong berakhirnya konflik di Gaza.