Harga Komoditas

Harga Komoditas Bergerak Variatif, Timah Menguat

Harga Komoditas Di Pasar Global Menunjukkan Dinamika Pergerakan Yang Beragam Pada Penutupan Perdagangan Terbaru. Beberapa komoditas mengalami kenaikan signifikan, sementara yang lain mencatat penurunan tipis pada periode yang sama. Salah satu sorotan utama adalah melonjaknya Harga Komoditas timah hampir 10 persen di bursa logam. Di tengah tren penurunan untuk komoditas energi seperti batu bara dan minyak sawit.

Data terbaru menunjukkan bahwa pada penutupan perdagangan Jumat (23/1), harga timah berdasarkan London Metal Exchange (LME) naik 9,52 persen dan berada pada level USD 56.816 per ton. Ini menjadi lonjakan yang cukup kuat di tengah pasar logam yang cenderung fluktuatif. Kenaikan Harga Komoditas timah ini mencerminkan minat pasar yang meningkat terhadap logam yang memiliki beragam aplikasi industri, termasuk dalam sektor elektronik dan solder.

Batu Bara Turun Tipis di Tengah Lingkungan Permintaan Energi

Sementara itu, harga batu bara mengalami tekanan dan turun sekitar 0,93 persen berdasarkan data dari situs ICE Newcastle, dengan posisi harga berada di USD 111,40 per ton pada penutupan perdagangan yang sama. Penurunan ini terlihat dalam konteks pasar energi global yang sedang menyesuaikan diri terhadap perubahan permintaan dan pasokan.

Tren penurunan harga batu bara sebenarnya bukan fenomena baru sepenuhnya. Pasar batu bara global sering menunjukkan volatilitas yang di pengaruhi oleh pasokan domestik dan kebijakan energi negara-negara besar seperti China dan India, yang merupakan konsumen utama batu bara dunia. Faktor seperti kebijakan ekspor dan permintaan listrik turut memengaruhi harga batu bara di pasar internasional.

Untuk konteks Indonesia, data BPS melaporkan bahwa nilai ekspor batu bara Indonesia menurun signifikan sepanjang periode awal 2025. Dengan volume dan nilai yang turun dibanding periode sebelumnya.

Harga Komoditas CPO Masih Melemah, Di Tengah Pasar Sawit Global yang Tidak Stabil

Selain batu bara, komoditas minyak sawit mentah (crude palm oil atau CPO) juga menurun pada penutupan perdagangan Jumat (23/1). Harga CPO berdasarkan Tradingeconomics turun sedikit sekitar 0,57 persen, berada di level MYR 4.174 per ton. Penurunan ini mencerminkan kondisi permintaan global yang masih belum stabil. Serta tekanan dari peningkatan pasokan di negara-negara produsen seperti Indonesia dan Malaysia pada periode tertentu.

Secara umum, harga CPO bergerak dipengaruhi oleh faktor global seperti permintaan impor dari negara-negara besar, perubahan harga minyak nabati lain di pasar internasional. Serta kebijakan perdagangan yang mempengaruhi ekspor-impor komoditas ini. Fluktuasi nilai tukar mata uang juga memberi efek tambahan terhadap harga di pasar global.

Nikel Juga Menguat di Tengah Pasar Logam

Selain timah, logam nikel juga mencatatkan tren positif pada periode yang sama. Harga nikel naik sekitar 4,22 persen dan berada di posisi USD 18.756 per ton di pasar logam internasional. Kenaikan nikel ini sejalan dengan permintaan yang bergerak pulih, khususnya dari sektor manufaktur dan baterai kendaraan listrik yang menjadi penopang utama permintaan logam dasar ini.

Pergerakan harga nikel umumnya dipengaruhi oleh prospek ekonomi global, investasi di sektor kendaraan listrik, serta kebijakan perdagangan di negara-negara produsen dan konsumen utama. Stabilnya permintaan menjadi elemen kunci yang mempengaruhi arah pasar logam ini ke depan.

Dinamisnya Pasar Komoditas Menjadi Tantangan Pelaku Usaha

Pergerakan Harga Komoditas yang bervariasi ini menunjukkan bagaimana kekuatan ekonomi global dan faktor fundamental pasar saling mempengaruhi. Bagi pelaku usaha dan eksportir Indonesia, dinamika tersebut menjadi faktor penting dalam perencanaan produksi, pemasaran, dan strategi ekspor. Volatilitas ini juga berimplikasi terhadap neraca perdagangan nasional, terutama untuk komoditas unggulan yang menyumbang devisa signifikan.

Dalam jangka pendek, tren harga seperti lonjakan timah dan pelemahan batu bara serta CPO bisa memberi tekanan sekaligus peluang bagi para investor dan pelaku industri. Kenaikan harga logam tertentu bisa meningkatkan nilai ekspor, sementara penurunan harga komoditas energi memerlukan strategi adaptif untuk menjaga stabilitas ekonomi.