Pesawat

Pesawat ATR-42-500 Alami Kecelakaan Di Gunung Bulusaraung

Pesawat ATR-42-500 Alami Kecelakaan Pencarian Dan Pertolongan Selama Tujuh Hari Yang Di Lakukan Tim SAR Gabungan Akhirnya Membuahkan Hasil. Seluruh korban dari kecelakaan Pesawat ATR-42-500 yang jatuh di kawasan pegunungan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan telah di temukan setelah ikhwal tragedi yang menyentak publik Indonesia sejak pertengahan Januari lalu.

Pesawat turboprop ATR-42-500 yang di operasikan oleh Indonesia Air Transport (IAT) itu hilang kontak pada 17 Januari 2026. Ketika dalam perjalanan dari Yogyakarta menuju Makassar. Kontak terakhir dengan pengendali lalu lintas udara di laporkan sekitar pukul 13.17 WITA. Sebelum hilang di kawasan perbukitan yang di kenal dengan rute pendekatannya yang menantang.

Temuan Seluruh Korban, Tangis Haru Tim SAR

Selama proses pencarian yang berlangsung selama tujuh hari, tim SAR menghadapi medan sangat sulit. Lereng curam, jurang dalam, cuaca buruk, serta kabut tebal di puncak Gunung Bulusaraung yang mencapai sekitar 1.353 meter di atas permukaan laut. Meski demikian, tim berhasil menemukan sepuluh jenazah korban dalam kondisi meninggal dunia setelah penemuan dua paket jenazah terakhir pada Jumat pagi.

Keberhasilan ini di sampaikan di Posko SAR Operasi Gabungan di Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep. Suasana haru menyelimuti saat pihak SAR bersama unsur TNI dan Polri mengumumkan bahwa pencarian jenazah telah selesai. Di tandai dengan tangis haru dari personel tim yang telah bekerja tanpa henti di medan berat tersebut.

Asisten Operasi Kodam XIV Hasanuddin, Kolonel Inf Dody Triyo Hadi. Menyatakan bahwa paket jenazah terakhir berhasil di temukan sekitar pukul 08.33 dan 09.16 WITA. Sehingga seluruh korban dari kecelakaan tersebut kini telah di identifikasi secara fisik dan siap untuk proses evakuasi lanjutan.

Kronologi Singkat Kecelakaan Pesawat

Pesawat yang membawa tiga penumpang dan tujuh awak itu bertugas atas sewa dari Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan. Sebuah misi patroli udara yang di jalankan atas nama Kementerian Kelautan dan Perikanan. Seluruh penghuni pesawat di pastikan meninggal dunia setelah tabrakan dengan tepian lereng gunung yang curam. Dalam jenis kecelakaan yang oleh KNKT di kategorikan sebagai Controlled Flight Into Terrain (CFIT). Di mana pesawat yang masih dalam kendali pilot secara tidak sengaja menabrak permukaan tanah atau lereng gunung.

Penyebab pastinya masih dalam penyelidikan resmi oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), yang akan menganalisis rekaman kotak hitam (black box) yang ditemukan utuh dan akan dibawa ke Jakarta untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Upaya SAR yang Ekstensif

Operasi SAR yang berlangsung sejak 18 Januari 2026 melibatkan berbagai unsur, termasuk Basarnas. Kemudian TNI Angkatan Udara dengan dukungan helikopter Caracal, serta unsur SAR lokal. Usaha pencarian sempat terhambat oleh kondisi cuaca ekstrem dan medan yang terjal. Namun temuan pertama serpihan besar pesawat di lereng gunung, menyusul temuan potongan tubuh korban di jurang dalam, menjadi titik awal konsolidasi operasi gabungan tersebut.

Selain itu, penyelamat juga menemukan barang-barang pribadi korban seperti dompet, dokumen. Dan perangkat elektronik yang ikut membantu mempersempit area pencarian dan membantu tim identifikasi korban.

Pengakuan Keluarga dan Dukacita Nasional

Kabar tentang temuan seluruh jenazah ini membawa duka mendalam di kalangan keluarga korban dan seluruh masyarakat. Sejak jatuhnya pesawat ini, keluarga menanti kepastian dan informasi perkembangan pencarian, yang selama beberapa hari penuh menjadi headline media nasional dan lokal.

Walau tragedi ini menyisakan luka dan pertanyaan, kerja keras tim SAR serta kolaborasi berbagai pihak akhirnya memberi kejelasan tentang nasib seluruh penumpang dan awak pesawat. Proses berikutnya kini fokus pada pemulangan jenazah ke keluarga masing-masing. Serta penyelidikan menyeluruh atas sebab kecelakaan, demi mencegah terulangnya insiden serupa di masa depan.